SBY dan Oligarki Baru

Aneh, aneh, aneh!

Mengapa tiba-tiba semua orang menjadi “kancil pilek”?

Alkisah, di suatu kerajaan binatang yang dipimpin oleh Singa, sang raja, terdapat bau busuk yang keluar dari kakus kerajaan. Sang raja marah dan tentu tidak mau mendengar ada binatang lain yang mengatakan kalau kerajaannya bau busuk. Dia pun menguji setiap binatang yang lewat apakah benar memang ada bau busuk.

Seekor kijang lewat di depan kerajaan dan ditanya sang raja, “Benarkah kerajaanku bau busuk?”. Dengan jujur kijang pun menjawab, “Benar tuanku. Bau busuk”. Raja tidak terima, “Apa? Engkau lancang telah mengatakan kerajaanku busuk!” Akhirnya si kijang pun diterkam habis.

Tak lama kemudian, seekor rusa lewat. Raja bertanya lagi, “Benarkah ada bau busuk?”. Dengan lantang apa adanya, rusa menjawab, “Sangat benar, Raja. Sangat busuk”. Singa pun marah dan membunuh sang rusa.

Selang beberapa waktu, si kancil pun lewat juga di depan kerajaan. Raja bertanya kepada kancil dengan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan kepada rusa dan kijang sebelumnya. Mengetahui nasib akhir teman-temannya, kancil pun menjawab, “Maaf Raja, saya sedang pilek”. Raja pun terdiam dan membiarkan kancil lewat dengan selamat.

Apa hubungannya antara kancil pilek dengan SBY-Oligarki seperti judul di atas?

Dalam beberapa tahun belakangan, bahkan bisa dibilang sejak SBY merebut kekuasaan di tahun 2004, politik nasional zaman reformasi yang diharapkan bersih dari musuh besar manusia yaitu KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) justru telah dikotori oleh perilaku pemerintahan SBY. Oligarki SBY tampaknya sedang dibangun untuk memperpanjang kekuasaannya.

Anehnya, di media massa manapun, tidak ada yang berani mengkritik nepotisme gaya baru (oligarki SBY). Semua orang sedang berperan menjadi kancil pilek: Tahu benar apa yang sedang terjadi, tetapi takut mengungkapkan kebenaran.

Dia sebagai Presiden membiarkan keluarga, kerabat, dan konco-konconya untuk mengisi pos-pos dan jabatan politik formal tanpa malu-malu lagi. Dari posisi di partai Demokrat sampai dengan Panglima TNI telah diplot orang-orang SBY. Watak Orde Baru yang najis, kotor, dan memalukan justru telah dibangkitkan kembali oleh Presiden yang mengaku-aku sebagai “reformis”.

Di Rusia, Putin sedang membangun kekuasaan oligarkinya. Di Thailand, Thaksin membesarkan bisnisnya lewat posisi premiership-nya. Dulu, di Filipina dan Indonesia, Marcos dan Soeharto telah berhasil menyulap negara menjadi milik oligarki keluarganya sendiri.

Jika ini yang terjadi, oligarki hanya akan membawa kehancuran bagi negara. Sebelum terlanjur terlalu jauh, sebaiknya oligarki yang sedang dibangun Yudhoyono ini dihentikan. Para “kancil pilek” harus segera menyembuhkan diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: